Senin, Juni 21, 2010

PERJUANGAN MUSLIM NABIRE PAPUA

Tekadnya bulat dan besar; mencetak 100 sarjana Muslim asal Papua. Demi cita-citanya ini dia dengan modal nekat menemui orang-orang besar, beraudiensi dengan rektor-rektor perguruan tinggi ternama di Indonesia untuk memuluskan jalan bagi anak-anak Muslim Papua agar bisa kuliah di kampus-kampus besar di Pulau Jawa.

Muhammad Yudi (36) berasal dari Nabire, Papua. Dia bungsu dari 13 bersaudara. Perjalanannya ke Pulau Jawa dimulai saat mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi di Semarang. Waktu itu Yudi belum Muslim. Kedekatannya dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), membuat Yudi memutuskan mengucap dua kalimat syahadat.

Yudi kemudian berkenalan dengan salah satu tokoh Islam di Jakarta. Dari kedekatan mereka, Yudi akhirnya mendirikan Yayasan Pendidikan Muslim Papua. Melalui yayasan ini, Yudi menjembatani dan mencarikan dana bagi anak-anak Muslim Papua yang Dhuafa agar bisa menuntut ilmu di Pulau Jawa. “Pada dasarnya anak Papua itu sama cerdasnya dengan anak-anak di sini (Jawa). Hanya saja, kesempatan bagi mereka tidak tersedia,” katanya. Salah satu anak binaannya sudah ada yang lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan telah bekerja di Pemda Nabire.

Ketika ditemui baru-baru ini, Yudi sedang sibuk mengurus 5 orang anak yang hendak dia masukkan ke UI dan UNJ. Anak-anak tersebut masih di Papua, dan akan ke Jakarta sebelum ujian masuk. Yudi pun menyediakan rumahnya di Bojonggede, Bogor, Jawa Barat sebagai tempat penampungan. Kelak, setelah anak-anak binaannya lulus, mereka harus kembali ke Papua membangun daerah mereka. “Papua tidak akan bisa maju kecuali dibangun oleh putra asli daerahnya,” ungkapnya.

Setiap tahun, Yudi pulang kampung untuk menjemput 20-30 orang anak Muslim yang yatim dan dhuafa untuk dibawa ke Jakarta. Dia menggunakan kapal laut yang harga tiketnya sekali jalan bisa mencapai Rp 1 juta. Jadi untuk membawa anak-anak itu dari Papua ke Jakarta, Yudi harus mencari dana sekitar Rp 20 jutaan, itu baru untuk transportasi saja.

“Alhamdulillah banyak yang bantu, seperti dari Gontor, Asy-Syafiiyah, Yarsi, dan sejumlah lembaga Islam. Istri saya, Lilin banyak membantu, dan ridho dengan saya, ditambah dengan kehadiran anak saya, Muhammad Radho Ottoki semakin membuat saya semangat,” tuturnya bersemangat. Lilin (31) dan Muhammad Radho Ottoki (2,5) adalah dua orang yang selalu memberi asupan energi buat Yudi.

Sehari-hari, Yudi hidup dari usaha peternakan ayam kampung dan petelur yang jumlahnya sudah hampir 10 ribu ekor. Tapi baru-baru ini usahanya itu bangkrut. “Tapi saya yakin rezeki Allah Maha Luas,” ujarnya. Yudi tidak menolak bantuan dermawan bila ada yang bersimpati pada perjuangannya. Dia yakin bahwa dengan beramal, hidupnya akan baik-baik saja. “Jika saya belum berhasil mencetak 100 orang sarjana asal Papua, saya belum puas. Banyak tawaran untuk naik haji gratis, tapi selalu saya tolak. Saya baru akan berangkat haji setelah anak binaan saya yang lulus sarjana 100 orang,” tandasnya.

Tidak ada komentar: