Rabu, September 09, 2020

MENELUSURI LELUHUR MUHAMMAD HUSNI THAMRIN

Dalam Catatan Kitab Al-Fatawi dan juga catatan cucu Kyai Ahmad Syar'i Mertakusuma.

Leluhur MH Thamrin adalah sebagai berikut :

Jalur ayahnya : 

1. Kumpinya adalah seorang Sultan Pontianak Ke I yang bernama Sultan Syah Abdul Hamid Al-Qodri Ba'alawi Al-Husaini
2. Kakendanya bernama Pangeran Syarif Abdurrahman Al-Qodri
3. Ayahandanya bernama Muhammad Tabri Thamrin 

Jalur iburnya :
Lebih dikenal dengan nama Ibu Syarifah dari Keluarga Mertakusuma

Nama Asli Muhammad 
Husni Thamrin adalah : Syah Muhammad Husni
Nama Panggilan : Husni 
Gelar : Syah, sebagai tanda Kaum Betuwe Jayakarta, diberikan oleh Ratu Bagus Abdul Wahab Mertakusuma,
dicatat sebagai anggota keluarga besar Mertakusuma, 
Saat dicatatkan kepada Pencatat Sejarah Al Habib 
Di Masjid Jami Angke pada tahun 1900 Masehi, 

turut menyaksikan dan bertanggung jawab adalah 
KH Ahmad Syar'i Mertakusuma atas permintaan Syarifah Aminah.

Jadi MH Thamrin itu murni keturunan Arab dari 
Marga Al-Qodri, sebuah Marga dari Alawiyyin yang sudah tidak ada lagi Hadramaut namun justru banyak terdapat di Kalimantan,  dan salah satu Sultannya dimakamkan di Masjid Angke Jakarta Barat dan beliau merupakan pejuang penentang penjajahan Belanda.

Sampai saat wafatnya Semua tulisan arab melayu tentang MH Thamrin tersimpan dengan baik dalam kitab 
Al-Fatawi dan jangan ditanya betapa sedihnya perasaan
KH Ahmad Syar'i begitu mendengar murid sekaligus keponakannya itu wafat. Sangatlah wajar jika seluk beluk MH Thamrin itu diketahui Keluarga Besar Jayakarta, karena ibunya adalah asli keturunan Jayakarta. Masjid Angke Jakarta Barat tempat dimakamkan salah satu leluhur Thamrin itu juga banyak dimakamkan keluarga besar Jayakarta termasuk leluhurnya KH Ahmad Syar'i Mertakusuma.

Semoga kita lebih berhati-hati dalam menisbatkan sebuah nasab, apalagi ini adalah nasab tokoh besar yang berjasa terhadap bangsa dan juga daerahnya, apabila memang tidak tahu lebih baik tidak mengira-ngira, dan jangan berpatokan kepada mereka yang tidak faham ilmu nasab apalagi berpatokan pada catatan penjajah yang dalam ilmu nasab saja wajib diwaspadai, yang lebih amannya,  maka lebih baik tanyakan langsung kepada ulama-ulama yang mendalami ilmu nasab yang memiliki sanad, agar kita tidak keliru dalam menulis secara utuh sejarah seseorang

Sumber : 

Kitab Al Fatawi-Bab Silsilatul Syar'i, KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma, Palembang :
Al-Fatawi, 1910