Senin, Maret 17, 2014

MAKNA HAKIKI BERKAH (BAROKAH)

Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.'' (QS.7:96)

Dalam rangkaian ayat-ayat A-Qur’an al-Karim, kita temukan kata barokah dalam berbagai derivasinya. Misalnya, Al-Quran diturunkan pada malam yang diberkahi (QS.6:92,21:50,38:29), Baitullah adalah Rumah yang diberkahi (3:96), ada pula tempat-tempat yang diberkahi (17:1,28:30,34:18).

Berkah berasal dari kata barokah (jamak: barokaat) yang menurut Prof Dr M Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah bermakna sesuatu yang mantap, kebajikan yang melimpah dan beraneka ragam serta bersinambung.

Keberkahan Ilahi datang dari arah yang seringkali tidak diduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dapat dibatasi atau bahkan diukur.

Segala penambahan yang tidak terukur oleh indra dinamai barokah/berkah. Adanya berkah pada sesuatu berarti adanya kebajikan yang menyertai sesuatu itu. 

Keberkahan akan datang jika diundang melalui tiga jalan yakni, Pertama, keimanan kepada Allah SWT. Beriman seringkali disertai takwa yang menunjukkan kesatuan yang tak bisa terpisahkan (QS.7:96).

Jika iman adalah keyakinan dalam kalbu, takwa adalah refleksi dari iman yang tampak pada sikap, kata dan perbuatan yakni kepatuhan dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.

Almarhum Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan keimanan dan takwa kepada Allah membukakan pintu rezki. Sebab kalau orang telah beriman dan bertakwa, fikirannya sendiri terbuka, ilham pun datang.

Sebab iman dan takwa itu menimbulkan silaturrahim sesama manusia. Lantaran itu timbullah kerjasama yang baik sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka turunlah berkat dari langit dan bumi.

Baik berkat hakiki yakni hujan membawa kesuburan bumi, teraturlah tumbuhan dan keluarlah hasil bumi, maupun berkat maknawi yakni timbulnya fikiran-fikiran baru dan petunjuk dari Allah, baik wahyu kepada para Rasul maupun ilham kepada orang-orang yang berjuang dengan ikhlas.

Kedua, mencintai ulama. Satu demi satu ulama terkemuka meninggalkan kita. Mautul ‘alim mautul ‘alam (kematian ulama laksana kematian alam semesta). Begitulah kata hikmah menggambarkan besarnya peran dan kedudukan ulama di muka bumi. 

Mereka yang menuntun umat ke jalan kebenaran dan kebaikan dengan ilmu dan keteladanan. Jika ulama tidak lagi didengar dan dimuliakan, maka hilanglah keberkahan.
Kini, umat Islam pun hidup dalam ironi. Karena, sudah lebih senang mendengar ceramah ustaz seleberitis yang tampil di layar TV dan dibalut asesoris serban dan jubah layaknya artis.

Bangga jika bisa mengundang mereka dengan honor yang pantastis, meski harus berjejer di pinggir jalan minta sedekah. Dakwah sudah menjadi tontonan dan hiburan bukan lagi tuntunan.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad, mengutip pesan Nabi SAW. : “Akan datang suatu masa kepada umatku, mereka lari dari (ajaran) para ulama dan fuqaha. Maka Allah akan menurunkan tiga bala (malapetaka) kepada mereka yaitu, Pertama, Allah akan menghilangkan berkah dari usahanya, kedua, Allah menjadikan raja yang zhalim buat mereka, Ketiga, Allah akan mengeluarkan mereka dari dunia (mati) tanpa iman.”

Ketiga, transaksi yang Jujur. Keberkahan bersumber dari rezki yang diperoleh melalui jalan yang halal (benar dan baik). Banyaknya perolehan harta dan tingginya kedudukan tidak menjadi ukuran.

Rezki berkah akan melahirkan keluarga yang berkualitas, tenang, rukun dan saling menyayangi. Anak dan istri atau suami taat beribadah dan berakhlak karimah. Senang berbagi nikmat kepada orang lain yang membutuhkan. 

Nabi SAW. mengingatkan : “Dua orang yang saling berjual beli memiliki khiyar (hak memilih) selama mereka sebelum berpisah. Apabila mereka jujur dan memberikan penjelasan (terus terang dalam muamalah mereka), mereka akan diberi berkah dalam jual beli mereka. Dan apabila mereka menyembunyikan kekurangan dan berdusta, maka berkah akan terhapus dari jual beli mereka." (HR. Abu Daud).

Jual beli merupakan refresentasi dari semua transaksi ekonomi dan bisnis, baik dalam skala kecil maupun besar, pribadi maupun perusahaan bahkan antara pemerintahan.
Kejujuran akan mendatangkan keberkahan. Kecurangan merupakan bukti keserakahan yang akan melenyapkan keberkahan. 

Iman dan takwa sebagai pondasi. Kecintaan kepada ulama sebagai lampu yang menyinari. Transaksi bisnis (pekerjaan) dibingkai akhlak terpuji. Insya Allah hidup kita pun diberkahi. Namun, jika ketiganya dilangkahi, pastilah bencana terjadi di sana sini.

Hujan yang turun bukan lagi menentramkan hati, tetapi menenggelamkan segala yang dicintai. Panas terik bukan lagi menghangatkan bumi, tetapi mematikan tanaman para petani. Para pemimpin bukan lagi mengayomi, tetapi justru menzhalimi.  Naudzubillahi mindzalik. Allahu a’lam bish-shawab.

Tidak ada komentar: