Kamis, Oktober 06, 2011

MARI SEMUA PARTISIPASI UNTUK GERAKAN DAKWAH NELAYAN FLORES

Usman Maratu Selolong melipat-lipat kecil uang Rp 20.000 kemudian menyelipkannya ke dalam saku celana. Itulah bagian untuknya, kelima belas anak buahnya pun mendapatkan jumlah yang sama. Lelaki usia 60 tahun ini membagi rata uang Rp 320.000, hasil menjual ikan yang ditangkap nelayan dalam kelompoknya setelah dikurangi biaya pembelian bahan bakar.

Demikianlah keseharian warga nelayan di pesisir laut Flores, Nusa Tenggara Timur. Hari ini ia bisa membawa pulang uang untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan keempat anaknya, namun belum tentu esok hari. Terkadang hasil tangkapan tidak mampu menutupi biaya operasional dan bahan bakar selama melaut.

Laut Flores sebenarnya kaya akan ikan. Namun sarana yang kurang menyebabkan mereka kesulitan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang memadai.  Perahu Ketinting yang mereka gunakan untuk melaut adalah perahu sebesar sampan yang terbatas daya muatnya,  belum lagi jarak yang harus ditempuh oleh nelayan untuk menjual hasil tangkapannya ke pasar yang memakan waktu perjalanan sampai 6 jam. Daya serap pasar lokal inipun terbatas sehingga selalu ada dilema, bahkan saat musim panen ikanpun, nelayan tidak bisa tangkap banyak-banyak  selain karena perahu Ketintingnya tidak mampu muat banyak, juga saat di pasar, boleh dikatakan percuma menangkap ikan banyak-banyak karena tidak laku dijual.

Sebenarnya ada pasar yang cukup besar yang mampu menyerap hasil tangkapan nelayan yakni pasar untuk ekspor. Bahkan perusahaan Jepang, Taiwan dan Korea sudah membangun tempat penampungan hasil laut di sekitar pelabuhan Maumere, Flores Tengah.  Sayangnya pasar ekspor ini hanya menerima jenis ikan tuna dan cakalang.

Melihat situasi yang dihadapi oleh nelayan di NTT yang sebagian besar adalah muslim itu, maka Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) bersama partner lapangnya ust. Arifuddin Anwar berinovasi untuk merombak sebuah kapal yang sebelumnya untuk angkut logistik, menjadi kapal dakwah nelayan yang dapat menampung hasil tangkapan nelayan.

Kapal dakwah nelayan ini akan di renovasi dan dilengkapi sarana pembeku ikan dan palka penyimpanan yang mampu memuat sampai dengan 20 ton.  Nantinya kapal ini akan berfungsi sebagai kapal penampung ikan hasil tangkapan nelayan di tengah laut, dengan demikian ikan tangkapan dapat dipertahankan kesegarannya, sehingga harga jual terutama ikan tuna dan cakalang untuk pasar ekspor tetap tinggi.

Keuntungan lainnya adalah, ikan selain tuna dan cakalang dapat di jual ke pasar yang lebih besar yakni ke Surabaya bahkan sampai Jakarta.  “Pedagang besar ikan di Surabaya dan Jakarta sudah menyatakan kesediaannya untuk menampung ikan segar tersebut, berapapun jumlah hasil tangkapannya,” tegas Arifuddin Anwar.

Keseluruhan proses renovasi ini bila tidak ada aral melintang membutuhkan waktu sekitar 4 bulan, insya Allah dimulai bulan September 2011 dengan mengganti mesin utama penggerak kapal dengan mesin yang lebih besar powernya.  Setelah mesin utama terpasang, selanjutnya bagian kapal akan di rombak untuk palka pembeku dan penyimpanan ikan.  Adapun proses instalasi dan pemasangan alat pembeku dan pendingin akan dilakukan di Muara Baru, Jakarta Utara.  Diperkirakan akhir Januari 2012, kapal siap untuk berangkat kembali ke Flores, NTT, dan menjalankan tugas membantu nelayan tradisional di sana sekaligus sebagai sarana dakwah yang ampuh.

Perombakan kapal tersebut tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  BWA dan nelayan di pesisir laut Flores mengetuk hati kaum Muslim untuk berpartisipasi dalam kegiatan wakaf bagi Kapal Dakwah Nelayan ini.

Tidak ada komentar: