Rabu, November 03, 2010

JADIKAN NUSANTARA SEBAGAI PUSAT KAJIAN ISLAM DUNIA

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof Dr Muhammad Ali mengatakan, Islam Indonesia itu memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan Islam di negara lain di dunia. Namun begitu kata dia, hal tersebut bukan berarti ajaran Islam antara negara yang satu dan negara lainnya berbeda.

"Dengan kekhasan tersebut bagaimana caranya kita implementasikan agar bisa menarik para pakar-pakar di dunia melakukan kajian terhadap Islam Indonesia, Islam Nusantara," terangnya saat pembukaan Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) atau Konferensi Internasional Kajian Islam ke 10 di Banjarmasin, Senin (1/11). ACIS sendiri digelar hingga 4 November 2010.

Pembukaan ACIS dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Selatan H Rudy Arifin dan Muhammad Ali dengan memukul bedug bersama. Hadir dalam pembukaan itu mantan menteri agama Tholhah Hasan, mantan menteri sekretaris kabinet Djohan Efendi, dan hakim Agung Abdurrahman. ACIS sendiri diikuti oleh sedikitnya seribu peserta dari seluruh dosen perguruan tinggi agama Islam (PTAI), peneliti, pemerhati kajian keislaman di dunia.

Menurutnya, Indonesia adalah negara dengan penduduk terbesar di dunia yaitu 240 juta orang. Dari jumlah tersebut 85 persennya merupakan masyarakat Muslim. Karena itulah Indonesia memiliki peran yang strategis untuk memajukan masyarakat Muslim di dunia. Untuk itu kata dia, dalam ACIS ke-10 kali ini, pihaknya mengangkat tema menemukan kembali jati diri Islam Nusantara.

Islam Nusantara dalam hal ini bukan hanya Islam di Indonesia tetapi Malaysia dan Singapura yang dahulunya masuk dalam wilayah Nusantara. Melalui tema tersebut, konferensi ini ingin melakukan pengkajian lebih dalam tentang hakikat Islam yang dipraktikkan oleh masyarakat Muslim Nusantara. Selain itu juga untuk memetakan kembali kajian Islam di Nusantara serta mensosialisasikan dan menjadikan Islam Nusantara sebagai pusat kajian keislaman di dunia.

Tidak ada komentar: