Rabu, November 09, 2016

HUBBUD DUNIA : SANGAT DEKAT DENGAN MAKSIAT DAN MERUSAK AGAMA

Apa itu Hubbud Dunya?
Hubbud dunya adalah cinta dunia secara berlebihan. Cinta yang seperti ini sangat dekat dengan maksiat dan dapat merusak agama.

Lantas, bagaimana ciri orang yang cinta dunia? 
Cirinya, bila seseorang mencintai sesuatu, maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya. Jika orang sudah cinta dunia, maka akan datang berbagai penyakit hati. Ada yang menjadi sombong, dengki, serakah atau capai memikirkan yang tak ada. Makin cinta pada dunia, akan makin serakah, bahkan bisa berbuat keji untuk mendapatkan dunia yang diinginkannya. Pikirannya selalu dunia, pontang panting siang malam mengejar dunia untuk kepentingan dirinya.

Ciri lainnya adalah takut kehilangan. Seperti orang yang bersandar ke kursi, maka akan takut sandarannya diambil. Orang yang bersandar ke pangkat atau kedudukan, maka ia akan takut pangkat atau kedudukannya diambil. Karenanya, pecinta dunia itu tak pernah bahagia. Rasulullah yang mulia, walau dunia lekat dan mudah baginya, tapi semua itu tak pernah mencuri hatinya. Misalnya, saat pakaian dan kuda terbaiknya ada yang meminta, beliau memberikannya dengan ringan.

Beliau juga pernah menyedekahkan kambing satu lembah. Inilah yang membuat beliau tak pernah berpikir untuk berbuat aniaya. Semua yang ada di langit dan di bumi titipan Allah semata. Kita tak mempunyai apa-apa. Hidup di dunia hanya mampir sebentar saja. Terlahir sebagai bayi, membesar sebentar, menua, dan akhirnya mati.

Kita harus meyakini bahwa siapapun yang tak pernah berusaha melepaskan dirinya dari kecintaan terhadap dunia, maka akan sengsara hidupnya karena sumber dari segala fitnah dan kesalahan adalah ketika seseorang begitu mencintai dunia. Semoga Allah mengaruniakan pada kita nikmatnya hidup yang tak terbelenggu oleh dunia.

Karena itu, hendaknya sebagai Muslim, kita menjauhi sikap hubbud dunia. Sebab, selain dekat dengan maksiat dan merusak agama juga dapat merusak iman dan amal kita.

Bentuk hubbud dunia di antaranya adalah banyak berangan-angan kepada dunia yang gemerlap dan memiliki sifat thoma atau serakah. Sifat serakah ini akan memberikan kehancuran dan sia-sia.

Ada sebuah kisah tiga orang pencuri di jaman Nabi Isa as yang berhasil mencuri tiga batang emas. Setelah mencuri, ketiganyapun beristirahat di sebuah gua dan berniat membagikan harta curiannya. Namun, sebelum membagikannya, mereka sepakat untuk makan terlebih dulu. Maka pergilah seorang pencuri ke pasar untuk membeli nasi bungkus.

Sifat tamaknya digunaakan syaitan untuk memperdayainya. Ia pun terkena daya upaya syaitan untuk meracuni makanan kedua temannya. Dengan kematian kedua kawannya itu, dia berpikir tidak perlu lagi membagi hasil curian. Di saat yang sama, kedua temannya pun merencanakan pembunuhan dirinya agar hasil curian tersebut tidak perlu dibagi tiga. Keduaanya pun akan memperoleh keuntungan yang lebih banyak.

Sesampainya di gua tersebut, si pembeli nasi bungkus dibunuh oleh dua kawannya yang menunggu di gua. Selepas dibunuh, keduanya memutuskan untuk makan dulu. Mereka tidak tahu kalau nasi tersebut sudah diracuni. Apa Hasilnya? Keserakahan membuat ketiga pencuri tersebut mati. Nilah yang dimaksud merusak dan sia-sia.

Kisah lainnya, adalah kisah Salabah yaang senantiasa terburu-buru dalam shalat dan enggan berwirid lantaran sarung yang dimilikinya harus dipakai bergantian dengan istrinya di rumah. Ia pun memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar mudah mendapatkan rezeki. Sayangnya, ketika rezeki itu telah dilimpahkan kepada Salabah, ia justru lalai dalam beribadah.

Semoga kisah-kisah itu dapat memberikan pelajaran kepada kita semua.

Oleh:  Ahmad Khotib

Senin, November 07, 2016

KUNCI SUKSES TARBIYAH : CINTA ALLAH DAN RASUL

Salah satu kunci sukses tarbiyah Rasulullah Saw kepada para sahabatnya adalah keberhasilan beliau dalam menanamkan cinta ALLAH & RASUL dalam hati mereka. Sebuah misi hebat yang dilakukan oleh maha guru hebat kepada para murid yang luar biasa!

Para ahli kitab yang mengaku menjalankan perintah Allah pernah datang menghadap Nabi Saw sambil berkata, “Muhammad, kami mencintai Allah tapi kami tidak mau mengikuti jalanmu.”
Ucapan mereka langsung diingkari oleh Allah Swt dalam firman-Nya,

” قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٣١﴾
“31. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S.3:31)

Hal ini menandakan bahwa tidak ada cinta kepada Allah tanpa mencintai RasulNYA.
Maka mencintai keduanya adalah tuntutan. Cinta keduanya adalah syarat mutlak.

Pernah Umar bin Khattab berkata kepada baginda Rasulullah Saw, “Ya Rasul, sungguh aku mencintaimu melebihi cintaku kepada keluarga dan harta. Namun aku masih mencintai diriku…”
Rasul Saw tersenyum lembut sambil menukas, “Tidak ya Umar…, buatlah cintamu kepadaku melebihi cinta pada diri sendiri.”

Umar Ra menyadari bahwa jika tidak ada Rasul Saw, maka dirinya akan senantiasa dalam kesesatan. Maka Umar Ra pun meralat, “Aku mencintaimu ya Rasulullah di atas segalanya. Bahkan dibanding cintaku kepada keluarga, harta dan diriku sendiri.” HR. Bukhari & Ahmad

Allahu Akbar…. 

Cinta yang ditanam Rasulullah terhujam dalam hati seorang sahabat bernama Umar…. Bahkan bukan hanya Umar, para sahabat yang lain pun merasakan cinta kepada Allah & RasulNya. Cinta yang tak ada banding. Cinta yang tak logis. Cinta hakiki yang perlu dicari!

Simaklah kisah Anas bin Nadhr! Saat perang Uhud mulai berkecamuk para sahabat masih bertahan dalam barisan. Namun Anas ra sdh melompat… menyambut musuh yang menyerang. Ia turun sendirian… ya, dia sendiri di sana. Tanpa rasa takut. Tanpa gentar!!!

Saad bin Muadz berteriak, “Anaaaaassssss, kembali ke siniiii!” Seolah tak peduli, Anas balas berteriak tanpa berpaling sedikit pun, “Biarkan aku Saad, demi Allah yang tiada tuhan selain DIA. Aku mencium bau surga dari bawah kaki gunung Uhud!”

Anas pun menyongsong musuh. Ia syahid dikeroyok musuh. Imam Bukhari, Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad menuliskan kisah hebat syahidnya Anas bin Nadhr dalam kitab shahih mereka. Dan saat ditemukan Anas tewas dengan luka tusukan tidak kurang dari 80 banyaknya. Anas syahid dengan kebangaan. Ia tewas dengan cinta hakiki yang tak masuk akal…. Cinta Allah dan RasulNYA!